Cari Blog Ini

Jumat, 06 Mei 2011

Senandung Dua Cinta

Langit kota kami saat ini masih gelap akibat hujan dan sepertinya mulai mereda beberapa menit tadi sebelum adzan subuh berkumandang. Menyusuri jalan menuju masjid Aisyah, kami disambut gerimis dan pemandangan yang berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Dedaunan pohon-pohon flamboyan yang berjejeran terlihat melebat dan besar kemungkinan beberapa hari lagi bunga-bunganya yang indah nan merah bergaya akan bersemi. Ketika melewatinya, tetesan-tetesan air hujan yang tertahan di daunnya, dan tercampur embun, sedikit membasahi pakaian kami.

Melangkah beberapa meter ke arah gerbang masjid, mulai terdengar bacaan Al-qur’an para jama’ah shalat subuh yang sedang menanti kedatangan imam sholat. Dan secara perlahan, suara-suara itu mulai terdengar sedikit lebih keras ketika kami memasuki pintu bagian kiri masjid. Masjid Aisyah inilah yang sering kami selipkan dalam catatan-catatan kami sebelumnya, sebuah masjid yang didesain dengan gaya khas timur tengah. Ah, tidak. Lain kali saja kami ceritakan anda tentang masjid ini.

>>Semburat Takwa Kaum Beriman

Sambil menunggu sang imam, seperti yang kami sebutkan, sebagian besar jama’ah shalat subuh tersebut terlihat membaca Al-qur’an. Ada yang menambah hafalannya atau mengulang-ngulang kembali hafalan sebelumnya. Sepertinya, tidak hanya hafalan Al-qur’an namun juga hafalan hadits-hadits.

>>Ada Do’a Orang Mulia. .

Untuk mereka yang menghafal hadits dan menyampaikannya, kami berdo’a kepada Allah agar menjaga mereka dan menganugerahkan mereka kebaikan. Bagaimana tidak, sementara orang termulia dan paling bertakwa di bumi, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah sisipkan do’a teruntuk mereka?

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana (apa) yang didengarnya. Betapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari orang yang mendengarnya’.”[1]

Subhanallah, semoga mereka benar-benar mendapat bagian dari do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu.

Kembali ke dalam masjid, sebagian orang mungkin menganggap pemandangan seperti itu adalah hal yang biasa. Namun jujur kami akui, hal-hal seperti itu begitu mengundang takjub apalagi mereka adalah remaja yang duduk di bangku sekolah, bukan para mahasiswa yang berada pada level pendidikan yang lebih tinggi, bukan pula orang tua yang jiwanya memang memiliki tingkat kesadaran yang apik.


>>Aku Seorang Anak Kecil..

Dahulu umat ini memiliki Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhum. Tahukah anda tentangnya? Seolah-olah memperkenalkan diri di hadapan kita, dia berkata dengan tegas,

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup -ed), aku adalah seorang anak kecil. Namun begitu, aku turut pula menghafal hadits dari beliau, sementara orang-orang yang ada di sekelilingku semuanya lebih tua dariku.”[2]

Itulah ucapan seorang anak kecil yang jiwanya terpercik sejuknya risalah langit, sebuah risalah yang Allah gerimiskan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah.


>>Sepercik Mutiara Hikmah..

Menulis catatan ini, sebenarnya ada tema khusus yang hendak kami perbincangkan. Namun ketika mengutip ucapan Samurah bin Jundub (radhiallahu anhum) tersebut, kami menemukan beberapa mutiara hikmah.

Mari kembali merenungi ucapan samurah kecil, “Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (masih hidup -ed), aku adalah seorang anak kecil. Namun begitu, aku turut pula menghafal hadits dari beliau, sementara orang-orang yang ada di sekelilingku semuanya lebih tua dariku.”[3]

Mudah menebak bahwa ucapan tersebut terlontar dari jiwa-jiwa belia yang semangat menuntut ilmu syar’i. Mereka menyerap risalah langit langsung dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini menjadikan mereka menjelma sebagai punggawa-punggawa yang Allah peruntukkan bagi kemuliaan islam.

Di masjid aisyah, ketika berada dalam majelis ilmu, kami sering berjumpa dengan anak-anak. Sering pula membuat iri. Mereka terlihat serius mendengar pembahasan sebuah kitab yang dikaji sang ustadz padahal tema-tema yang sedang dibicarakan membutuhkan proses berpikir. Tak hanya itu, mereka pula menyediakan alat tulis untuk merekam ilmu dengan tinta-tinta mereka.

Membaca ucapan sahabat Samurah pula, terlihat jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang anak-anak dalam belajar ilmu langsung dari beliau. Sebaliknya, beliau begitu perhatian dengan anak-anak. Beliau mempersiapkan generas-generasi tangguh untuk peradaban islam.

Pernah suatu ketika di ramadhan tahun lalu, kami menghadiri acara buka puasa. Hadir pula anak-anak. Salah satu anak yang masih begitu mulia, sebelum berbuka, membacakan kami salah satu hadits yang dihafalnya. Tak hanya itu, walaupun suaranya tak begitu jelas mengucap kata atau kalimat, ia membacakan kami salah satu surat yang ada di juz 29 atau juz lain namun bukan surat-surat di juz 30. Ia pula menghafal do’a-do’a nabawi. Sang ayah mengakui, si anak di rumah sering mendengar dan menemani sang ibu mengulang-ngulang hafalan Al-qur’annya.


Segala puji bagi Allah, sungguh, segala  puji bagi-Nya. Begitu penting pendidikan bagi sosok belia itu. Hari ini, anak-anak adalah biji ajaib. Lusa, mereka akan indah bertunas. Kelak, mereka adalah pohon kemuliaan islam yang akarnya menghujam jauh ke dalam bumi, dan buahnya akan dinikmati generasi-generasi selanjutnya.

Kelak, semoga kami bisa mengikuti para orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah berbasis keagamaan. Di sekolah model tersebut, anak-anak mendapat pelajaran-pelajaran yang memang menjadi cabang ilmu agama, seperti Bahasa Arab, Fiqh, Hadits, Al-Qur’an, Aqidah, Adan dan Akhlak, Sejarah Islam, dan lainnya. kami yakin, ini adalah salah satu senjata ampuh untuk menahan serangan para orientalis dan musuh-musuh luar islam lainnya, termasuk pula “musuh dalam selimut”. Mereka menyerang islam dengan merusak “biji yang sedang bertunas” tadi.

Di sana, kasian anak-anak yang duduk-duduk di jalanan sambil merokok, mendengar musik, membicarakan hal-hal murahan, balapan motor, dan kerjaan lainnya yang benar-benar jauh dari kesahajaan. Bahkan, kami ketahui, ada diantara meninggal dalam kecelakaan balapan motor gaya anak muda. Mereka meninggal dengan cara mengenaskan.
Kasian mereka yang sedang teracuni virus merah jambu lalu memprakarsainya dengan pacaran yang jelas-jelas haram. Lihatlah disana, mereka menjadi korban cinta.

Kasian anak-anak atau remaja yang asyik menonton acara-acara televisi masa kini. Di hadapannya, tersaji lagu-lagu dan film picisan. Aurat-aurat lawan jenis menjadi hal yang lumrah bagi pandangan. Adegan-adegan maksiat terperagakan secara sempurna di depan mata, lalu terekam begitu apik dalam memori mereka. Lisan-lisan mereka menyenandungkan nada-nada percintaan menirukan artis-artis di layar kaca.

Di Facebook, jejaring sosial yang benar-benar menghipnotis itu, kerapkali kami mendapati seorang anak  yang duduk di bangku sekolah menengah pertama selalu mengupdates status tentang seorang artis barat. Kami mengenal anak itu namun tak mengenal si artis, hanya namanya saja: Justin Beiber. Kami tak tahu nama artis ini tertulis dengan benar atau tidak. Si anak tadi, begitu tahu berbagai macam hal tentang justin. Dia benar-benar sedih sekiranya tidak sempat menonton konser sang artis. Album lagunya pun menjadi koleksi. Nampaknya ia benar-benar ngefans hingga pada taraf cinta.

Inilah salah satu musibah itu yang menginangi para remaja. Sekiranya ditanyakan kepada si anak, “Manakah yang engkau cinta, Allah dan Rasul-Nya atau Justin?.” Merupakan musibah yang kedua kalinya sekiranya jawabannya adalah nama terakhir. Kalaupun jawabannya adalah pilihan pertama, tentu terlihat jelas bahwa kecintaannya itu menipis.

Siapa yang salah? Siapa yang berdosa? Kepada siapa Allah titipkan si anak? Kami tak ingin melempar batu lalu menunjuk jari ke arah siapapun. Kami harap semua pihak harus tertampar, termasuk kami pribadi.


>>Senandung Dua Cinta. .

Sebagai penutup, sebenarnya ada kesamaan antara kalimat-kalimat di status (Facebook) si anak dengan ucapan si kecil Samurah: sama-sama mendendangkan cinta.


Luapan-luapan kekaguman si anak dengan Justin kerapkali memuncak hingga diproklamirkan di Dumay (dunia maya). Begitu pula si Samurah kecil, luapan-luapan cinta saat berada di majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terproklamirkan hingga terekam apik dalam kitab hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ah, dua senandung cinta yang amat bertolak belakang.

Wallahu a’lam, subhanakallahumma waibhamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

***

By: Fachrian Cansa Akiera (Mathematics Departement’s student, Mataram University)

Editor: Ustadh Syarifuddin S.pd.I (Mataram Islamic Centre) and al-akh Rafiq (IAIN Mataram’s student)


Endnotes:

[1] At-Tirmidhi said, “(this is a) saheeh hasan hadeeth”. See Khashais Ahli al-Hadeeth wa as-Sunnah by shaykh Muhammad Muhibbin Abu Zaid

[2] Narated by Bukhaaree and Muslim. See Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli  by shaykh Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid

[3] Narrated by Bukhaaree and Muslim. See Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli  by shaykh Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid

Sabtu, 05 Maret 2011

Hiburan bagi yang Mendapatkan Musibah

Berikut adalah beberapa nasehat dari ayat al Qur’an, hadits dan perkataan ulama yang semoga bisa menghibur setiap orang yang sedang mengalami musibah.
Musibah Terasa Ringan dengan Mengingat Penderitaan yang Dialami Orang Sholih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي
Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.[1]
Dalam lafazh yang lain disebutkan.
مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ
Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.[2] Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.
Semakin Kuat Iman, Memang Akan Semakin Terus Diuji
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.[3]
Di Balik Musibah, Pasti Ada Jalan Keluar
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[4]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
Bersama kesulitan, ada kemudahan.[5]
Merealisasikan Iman adalah dengan Bersabar
‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.
Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.[6]
Musibah Awalnya Saja Terasa Sulit, Namun Jika Bersabar akan Semakin Mudah
Hudzaifah ibnul Yaman mengatakan,
إِنَّ اللهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئاً قَطٌّ إِلاَّ صَغِيْراً ثُمَّ يَكْبَرُ، إِلاَّ المصِيْبَة فَإِنَّهُ خَلَقَهَا كَبِيْرَةً ثُمَّ تَصْغُرُ.
Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan sesuatu melainkan dari yang kecil hingga yang besar kecuali musibah. Adapun musibah, Allah menciptakannya dari keadaan besar kemudian akan menjadi kecil.[7] Allah menciptakan segala sesuatu, misalkan dalam penciptaan manusia melalui tahapan dari kecil hingga beranjak dewasa (besar) semacam dalam firman Allah,
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.” (QS. Ghofir: 67)
Namun untuk musibah tidaklah demikian. Musibah datang dalam keadaan besar, yakni terasa berat. Akan tetapi, lambat laut akan menjadi ringan jika seseorang mau bersabar.
Bersabarlah Di Awal  Musibah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.[8] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.
Pahala Orang yang Mau Bersabar Tanpa Batas
Ingatlah janji Allah,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[9]
Akan Mendapatkan Ganti yang Lebih Baik
Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]
Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Semoga yang mendapati musibah semakin ringan menghadapinya dengan sedikit hiburan ini. Semoga kita selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan pada malam 11 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul (kediaman mertua tercinta)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[1] Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [2] Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.
[3] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H
[5] HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, hal. 250.
[7] Idem.
[8] HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.
[9] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
[10] HR. Muslim no. 918.

Di Mana Air Matamu?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])
Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).
Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.
al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”
Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.
Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”
Saya [penyusun artikel] berkata: Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? Beginikah seorang salafi, wahai saudaraku? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (lihat QS. al-Maa’idah : 74).
Aina nahnu min haa’ulaa’i? Aina nahnu min akhlagis salaf? Ya akhi, jadilah salafi sejati!
Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah, asbabuhu wa mawani’uhu wa thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi